Selasa, 24 Desember 2019

Merdeka Belajar dan Peluang merayakan Multiple Intelligences. Mungkinkah? (Catatan kecil akhir tahun, menyongsong program merdeka belajar 2020)

Pernahkan Anda melihat seorang anak yang terpesona dengan permainan musik kemudian ia berusaha keras untuk dapat memainkan musik serupa, mempelajarInya dan dalam waktu tidak terlalu lama berhasil menguasai cara memainkan musik tersebut?. Pernakah Anda melihat bagaimana seorang yang gagap dalam berbicara tetapi trampil memainkan musik tertentu?, bagaimana anak kecil yang bahkan belum lancar membaca akan tetapi memiliki kepekaan terhadap hubungan nada?. Pernakah Anda menyaksikan seorang anak dengan keahlian memainkan bola kemudian menggiring bola dengan cermat dan memperhitungkan sasaran tembak dengan akurasi terbaik hingga tendangannya tepat sasaran dan membuahkan gol pada pertandingan sepak bola?. Pernakah Anda melihat bagaimana seorang anak mampu merangkai kata-kata menjadi kalimat yang baik misal dalam catatan harian?. Bahkan terlihat begitu memiliki kepekaan terhadap fonologis terhadap suatu bahasa saat berpidato. Pernakah Anda melihat seorang anak yang bisa memecahkan masalah matematika yang sedikit kompleks dengan modal pengetahuan terhadap konsep-konsep dasar yang disampaikan gurunya, meskipun dalam hal lain anak tersebut sangat lemah?. Hal-hal ini menunjukkan beberapa bakat unik yang dimiliki oleh seorang manusia yang masing-masing memiliki spesifikasi sendiri. Howard Gardner (2013) menyebutnya sebagai Multiple Intelligences.

Gardner melakukan riset cukup panjang dalam neuropsikologi dan psikologi perkembangan, yang dimulai pada awal 1970-an hingga membawanya pada teori kecerdasan majemuk ditandai dengan terbitnya Multiple Intelligences:The Theori In Practice pada tahun 1993. Studi yang cukup panjang ini, mengungkap tentang kecerdasan unik yang dimiliki setiap Individu. Ia menyebutnya sebagai Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk). Dalam bukunya Multiple Inteligences, Gardner menuliskan tujuh kecerdasan yang diusulkan sejak awal 1980-an ditambah dengan kecerdasan lain yang teridentifikasi kemudian. Tujuh kecerdasan dimaksud yaitu: Pertama, Kecerdasan musikal. Kapasitas seorang individu yang membawanya mudah untuk mengingat suatu melodi, mencipta ulang ritme, melacak perubahan yang terjadi dalam tema dalam suatu komposisi; Kedua, kecerdasan kinestetik tubuh. Kapasitas individu menggunakan kemampuan tubuh untuk mengungkapkan emosi (seperti pada tarian), memainkan permainan (seperti dalam olah raga) atau menciptakan produk baru (seperti dalam merancang suatu penemuan; Ketiga, kecerdasan logis-matematis. Kapasitas individu berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah, pengambilan kesimpulan dan observasi; Keempat, kecerdasan linguistik. Salah satu intinya adalah suatu kepekaan pada sifat fonologis suatu bahasa; Kelima, kecerdasan Spasial. Kemapuan dalam dalam pemecahan masalah spasial (ruang) untuk navigasi dan sistem notasi peta, termasuk memvisualisasikan dari sudut yang berbeda; Keenam, kecerdasan Interpersonal. Kapasitas individu dalam memerhatikan perbedan diantara orang lain-siklus hidup, perbedaan suasana hati, temperamen, motivasi dan niat mereka. Kecerdasan ini memungkinkan orang dewasa yang terlati untuk membaca niat dan hasrat orang lain, bahkan ketika semua itu tersembunyi. Dan ketujuh, Kecerdasan Intrapersonal. Kapasitas individu berkaitan dengan pengetahuan aspek-aspek internal dari seseorang, termasuk akses pada perasaan seseorang sendiri, dan rentang emosi sesorang.

Terkait kecerdasan yang teridentifikasi kemudian yaitu kecerdasan naturalis dan kecerdasan eksistensial meskipun pada akhirnya kecerdasan yang satu ini tidak diakui secara lengkap karena kurangnya bukti bahwa bagian otak berhubungan terutama dengan persoalan-persoalan keberadaan yang dalam terkait dengan segmen eksistensial.

Tentu saja, diruang yang terbatas ini, saya tidak sedang membahas cara kerja kecerdasan-kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner di atas. Akan tetapi, saya perlu menyampaikan bahwa penetapan atas karakteristik berbagai kecerdasan di atas diidentifikasi melalui kriteria yang ketat. Hal ini terlihat dalam pengakuannya bahwa dalam mengidentifikasi kecerdasan, ia menetapkan daftar dengan mengkaji berbagai sumber, mulai dari pengetahuan tentang perkembangan normal dan perkembangan dalam individu berbakat; informasi tentang pemecahan keahlian kognitif dalam kondisi kerusakan otak; studi populasi istimewa yang meliputi para genius, cendekia dan anak-anak autis; data tentang evolusi kognisi selama ribuan tahun; ragam kognisi lintas budaya; studi psikometri, yang meliputi pengujian korelasi diantara tes; dan studi pelatihan psikologis, terutama ukuran transfer dan generalisasi diantara tugas-tugas.

Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk) ini memungkinkan untuk menemukan ruang yang memadai di era ini. Era Nadiem Makarim. Kita tau bahwa sejak Nadiem Makarim dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia mencetuskan suatu program yang dikenal dengan program merdeka belajar dengan empat paket kebijakan yaitu: Pertama, mengganti USBN dengan ujian (assesmen) yang diselenggarakan hanya oleh sekolah pada tahun 2020; Kedua, mengganti UN menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan survei karakter pada tahun 2021 dengan penekanan pada tiga aspek yaitu literasi (kemampuan bernalar tentang dan menggunakan bahasa), Numerasi (kemampuan bernalar menggunakan matematika) dan Karakter (misalnya pembelajaran gotong royong, kebinakaan dan perundangan); Ketiga, guru bebas memilih, menggunakan dan mengembangkan format RPP dengan mengacu pada 3 komponen inti (Tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan assesmen); dan Keempat, Perubahan pada sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi menjadi 50% untuk jalur zonasi, 15% jalur afirmasi, 5% jalur perpindahan dan sisanya jalur prestasi (itupun disesuaikan dengan kondisi daerah).

Jika ditelisik lebih jauh, empat paket kebijakan merdeka belajar tersebut, memungkinkan untuk memberi ruang dalam merayakan multiple intelligences. Salah satu alasan mendasar bahwa, beragam bakat unik dan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh anak, tentu saja sulit untuk dimaksimalkan ditengah kecenderungan penyeragaman sekolah dengan ujian nasional sebagai eksekusinya.

Gagasan lahirnya empat paket kebijakan merdeka belajar tersebut terutama pada kebijakan USBN dan UN, sejalan dengan fitur pertama dari delapan fitur pendekatan penilain teori Multiple Inteligences yaitu menekankan pada penilaian (assesmen), bukan pengujian.

Pengujian seolah menjadi palu vonis terhadap sesuatu apakah hal itu penting atau tidak. Bahaya laten pengujian akan menggiring pada suatu kesimpulan sebagaimana disinyalir oleh Gardner, “…jika sesuatu itu penting, hal ini layak diuji dengan cara ini, jika tidak bisa diuji dengan cara ini, maka mungkin seharusnya hal ini tidak dinilai”. Pertanyaannya, apakah hal itu benar-benar tidak penting hanya karena tidak diuji dengan cara tertentu?.

Berbeda dengan pengujian, Gardner mendefinisikan bahwa penilaian sebagai proses untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan keahlian seseorang dengan tujuan ganda yang memberikan tanggapan berguna pada orang serta data yang berguna untuk masyarakat sekelilingnya. Lebih lanjut Gardner mengemukakan perbedaannya dari pengujian adalah bahwa penilaian memiliki teknik yang membuka informasi selama kinerja biasa berlangsung serta ketidakmudahan umumnya dengan pengetahuan instrumen formal yang dikelolan dalam latar netral yang tidak terkontekstualisasi.

Karena penilaian, bukan pengujian tentu saja tidak dilakukan diakhir. Mungkin karena itulah sehingga program merdeka belajar menetapkan bahwa asesmen dilakukan ditengah jenjang sekolah yang diharapkan dapat mendorong guru maupun sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Asesmen tidak digunakan untuk basis seleksi siswa kejenjang selanjutnya. Hal ini juga sejalan dengan fitur kedua pendekatan penilaian Multiple Intelligences yaitu penilaian yang sederhana, alami dan dilakukan pada jadwal yang terpercaya. Gardner mengemukakan bahwa penilaian seharusnya menjadi bagian lingkungan pembelajaran alami. Bahkan lebih jauh Gardner mengemukakan bahwa sebanyak mungkin, penilaian seharusnya terjadi tanpa disadari. Tidak perlu “megajar untuk menilai” karena penilaian itu ada di mana-mana. Akhirnya, harapan gagasan merdeka belajar benar-benar dapat memungkinkan untuk hadirnya ruang perayaan Multiple Intelligences (Kecerdasan majemuk) dan pada gilirannya, menjamurnya sekolah para juara. Semoga.

Kali, 25 Desember 2019

0 komentar:

Posting Komentar