Rabu, 13 Januari 2021

Bagi Seorang Guru, Belajar Tak Ada Matinya

Fakta menunjukkan bahwa, Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak yang cukup luar biasa terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat tak terkecuali dunia pendidikan. Dampak yang ditimbulkan tersebut tak main-main, dunia dibuatnya seolah lumpuh sesaat. Kondisi ini memaksa semua sektor kehidupan masyarakat untuk menemukan pola baru dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Demikian halnya dunia pendidikan. Karantina wilayah dan anjuran untuk jaga jarak memaksa sekolah dan guru untuk mencari cara agar proses belajar mengajar tetap berjalan.

Situasi ini tentu saja merupakan tantangan tersendiri bagi guru. Guru dipaksa keluar dari kebiasaan lama (zona nyaman) untuk menghadapi situasi yang benar-benar baru dan terjadi begitu cepat. Iya, peristiwa yang menggemparkan ini seolah terjadi begitu mendadak dan meluas begitu cepat. Karena itulah, guru dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan situasi agar mampu keluar dari lilitan persoalan yang dihadapinya. Tentu saja, untuk tetap dapat menjalankan perannya sebagai guru. Peran seperti apa?. Sebagaimana kita ketahui bahwa, guru memiliki peran ganda yaitu tidak hanya bertanggungjawab terhadap perkembangan intelegensi, akan tetapi juga perkembangan moral peserta didiknya.

Kondisi seperti ini seolah mengharuskan bahwa, tuntutan kompetensi abad 21 yang didengung-dengungkan sebelumnya, yakni di tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19 menerpa, benar-benar diuji untuk bisa diaplikasikan lebih dini yang tentu saja oleh guru terlebih dahulu. Kompetensi dimaksud diantaranya adalah kemampuan memprediksi arah perkembangan dunia, kemampuan guru bertindak sebagai konselor bagi peserta didik  (Councelor Competence), kemampuan beradaptasi, Empati, inovatif, kreatif, semangat pantang menyerah, kemampuan berkolaborasi dalam jejaring dan lain sebagainya.

Betapa tidak, situasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya ini, telah memaksa guru dan para pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk bisa bergotong royong mengatasi kompleksitas masalah yang timbul. Berbagai upaya dilakukan untuk mencari solusi dan memelihara semangat demi kelangsungan pembelajaran di masa sulit pandemi Covid-19. Webinar, workshop, bimtek dan berbagai diklat daring baik oleh lembaga pemerintah, organisasi profesi dan lembaga-lembaga lainnya yang terafiliasi dalam jaringan sekolah digital, terus dilakukan seolah menjadi menu wajib harian guru dan pemangku kepentingan. Akibatnya, kita menyaksikan suatu gelombang belajar sedemikian luar biasanya yang tidak pernah kita saksikan di hari dan tahun-tahun sebelumnya.

Penulis sendiri, meskipun berada di wilayah paling ujung Sulawesi Tengah yang tak jarang bergelut dalam upaya menunudukkan kesabaran menghadapi jaringan internet yang kurang bersahabat, juga termotivasi untuk mengikuti berbagai diklat dalam jaringan guna memecahkan kebuntuan pembelajaran daring. Alhamdulillah, tak kurang dari sepuluh pelatihan yang sempat kami ikuti. Mulai dari mengelola kelas dengan Google Clasroom, Membuat Kuis menyenangkan dengan Quiziz, Office 365, membuat media pembelajaran interaktif menggunakan Video Scribe, Powtoon, Kinemaster, mendesain PBM online dengan Google Form, Aplikasi Android berbasis pawer point, membuat aplikasi Android, serta berbagai webinar lainnya, termasuk membuat website bagi pemula, yang hasilnya saya suguhkan kepada pembaca ini. Tentu saja, semua ini merupakan suatu ikhtiar untuk dapat menghadirkan inovasi pembelajaran di masa sulit ini, yang tentu saja muaranya adalah jika tidak bisa meningkatkan, minimal mempertahankan motivasi positif belajar peserta didik.

Usaha menempa diri untuk terus belajar agar tetap dapat mempertahankan iklim belajar positif peserta didik meski di masa sulit seperti ini, bagi guru tak hanya kewajiban. Akan tetapi, juga sebagai bentuk tuntutan pertanggungajawaban moral untuk berusaha memecahkan kebuntuan pelayanan terhadap peserta didik. Pun demikian, landasan moral lainnya yang memberi acuan bahwa,  sebelum mengajarkan sesuatu seyogyanya kita telah melakukan hal yang akan kita sampaikan. Bagaimana mungkin kita mengajarkan kearifan tetapi kita sendiri tergesa-gesa dalam mengambil sikap. Bagaimana mungkin menuntut peserta didiknya untuk belajar jika kita sendiri tidak mengembangkan diri dalam tarikan iklim belajar. Bagaimana mungkin kita menginginkan perubahan jika kita sendiri tak berubah. “Be the change that you want to see in the world,” demikian sabda salah seorang pemimpin perubahan, Mahatma Gandhi.

Oleh sebab itu, guru sebenarnya tak sekadar profesi. Ia lebih dari itu. Tidak berlebihan jika Mendikbud Nadiem Makarim dalam pidatonya di Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019 menyebutkan secara blak-blakan bahwa tugas guru meskipun termulia namun juga tersulit. Padanya masa depan bangsa dipertaruhkan.

Menyadari bahwa dirinya mengemban tugas membentuk masa depan bangsa, maka diperlukan tekad kuat untuk terus belajar dan menularkan. Guru mencerminkan sosok pembelajar yang terus belajar untuk dapat menularkan. Hal ini mengingatkan kita pada ungkapan seorang filsuf berjiwa jernih pendiri ajaran Tao,  Lao Tzu. Ia berkata tentang guru pemimpin sebagaimana ditulis oleh John Heider dalam bukunya The Tao of Leadership  bahwa, “mereka dapat menjelaskan berbagai kejadian untuk orang lain, sebab mereka telah melakukannya sendiri. Mereka bisa berbicara tentang yang terdalam dari batin orang lain, sebab mereka telah mengetahui pertentangan dan ganjalannya sendiri secara lebih dalam.”

Uraian di atas mengindikasaikan bahwa, belajar dan mengajar tak lagi dilokalisir dalam hubungan take and give peserta didik dan guru. Belajar dan mengajar harus dibawa ke dalam spektrum lebih luas, yaitu suatu upaya untuk terus menjaga motivasi belajar guru sebelum mengajarkan. Hal ini senada dengan potongan kalimat yang bisa kita dengar dari Mars salah satu organisasi profesi guru Ikatan Guru Indonesia, “…pantang mengajar kalau tidak belajar.” Mungkin karena semangat inilah, sehingga organisasi profesi tersebut terus menjaga iklim belajar guru dalam bingkai semangat  Sharing and growing together.

Akhirnya, karakter pembelajar seperti ini mestinya terus melekat pada guru. Karakter inilah yang membawanya-guru-menjadi sosok yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh mesin/robot. Hal ini dapat menguatkan bahwa guru tak hanya sekadar mentor dan fasilitator. Akan tetapi, guru juga berperan sebagai pejuang, motivator, inspirator, hingga pemantik imajinasi dan kreativitas. Semestinya, belajar dan terus belajar di segala situasi adalah perisai seorang guru. Bagi guru, belajar tak ada matinya. Semoga kita termasuk yang terus berikhtiar untuk itu.

Artikel ini bisa juga Anda baca di sini

0 komentar:

Posting Komentar